kurofluid

welcome to the wonderland, be nice and kind, and I won't bite

I Know – A Thousand Years [2.2]

Author : @fafaaaw a.k.a fafacintamakan & imsookbin

Title : I Know – A Thousand Years

Casts : Baek Soojin, Choi Minho

Support Casts : SMEnt. Artist

Genre : Romance, Fluff, Psycho.

Beta Reader : @alyaaamir

Minho membuka bungkusan kertas cokelat itu, isinya berisi sebungkus obat. Baek Soojin kelewat peka, gadis itu. Masih sempat memberi ini, sekarang di mana gerangan orangnya. Kalau benar latihan, setidaknya ponsel tidak perlu mati total kan? Minho terpikir beberapa nama. Goo Hyusun, Kang Hyun, Seo Joohyun atau akrabnya Seohyun, sunbae sekaligus sepupu jauhnya, Kim Jongwoon dan yeodongsaengnya yang baru semester satu di K.Arts, Baek Soojeong atau biasanya memakai nama keluarga ibunya, Jeong Soojeong. Akhirnya Minho mengambil ponselnya dan mencari sebuah nomor telepon.

Yoboseyo? Minho oppa wae geuroyo?” Tanya suara di seberang sana.

[“Halo? Minho oppa ada apa?”]

“Ne, Soojeong ah, aku ingin menanyakan sesuatu.” Minho memutuskan untuk mengontak Soojeong, mengingat anak itu dekat dengan kakaknya dan sering keluar bersama.

Malhaebwa oppa, wae irae?

[“Katakan oppa, ada apa?”]

“Soojin eoddigayo? Ia menghilang selama tiga hari ini. Aku tanya pada Baek ajhusshi katanya sedang sleep-over. Kalau iya, di mana?”

[“Soojin kemana?”]

Eh,…” Soojeong terdengar sedikit bingung dengan apa yang harus dikatakannya. “Ne, naui eonnie, sedang mengerjakan proyek sesuatu dengan Seohyun eonnie. Ne, hajiman, aku tidak tahu apa itu.

Minho dapat merasakan ada yang tidak beres dengan perkataan Soojeong barusan. Gadis itu tidak biasa bohong, bohong adalah pilihan terakhirnya. Meski Minho masih menerka-nerka saja apakah Soojeong bohong atau tidak, ia cukup yakin Soojeong tidak mengatakan kebenarannya. “Oh, keundae, kenapa ponselnya mati. Apa ia ganti nomor atau bagaimana?”

Mollayo, oppa. Aku ada kelas sebentar lagi, annyeong.” Soojeong memutuskan telepon. Minho melihat kontak di ponselnya, Soojeong menyebut nama Seohyun.

Huh, Baek Soojin? Ia memang menginap di rumahku tiga hari lalu untuk merencanakan festival. Paginya ia sudah pergi. Kukira ia sudah pulang atau merencanakan sesuatu dengan Event Organizer nya. Jangan tanyakan aku, Minho-ya, nan mollayo. Hajiman, kau kan dekat dengannya, kenapa mencarinya?

“Tidak ada apa-apa. Ada sesuatu yang harus kubahas dengan yeoja itu. Seohyun ah, gomapta.”

Kemungkinan kecil Goo Hyusun dan Kang Hyun akan memberinya jawaban sangat kecil. Dua orang itu, kalau main rahasia-rahasiaan sudah expert, profesional kelas hiu. Hyusun dan Hyun sudah terbiasa menjaga rahasia banyak orang, itu yang membuat mereka dijuluki informan. Tapi, tidak ada pilihan lain, Baek Soojin hanya bisa mempercayakan rahasianya pada Hyusun dan Hyun, Soojeong, kakaknya Baek Sooyeon yang sama seperti Soojeong, lebih suka menggunakan nama keluarga ibunya. Sooyeon tidak mungkin tahu, karena orang itu sedang berada di Jepang, mengisi karir modelnya.

—–

Minho mengetukkan buku-buku jarinya bosan. Menunggui dua yeoja ini menyantap kimbab yang sebesar lengan tangan mereka. Dua yeoja itu, Kang Hyun dan Goo Hyusun, menolak memberitahu Minho di mana keberadaan Baek Soojin sebelum perut mereka diisi. “Choi Minho mokcha. Kau mau bengong di situ terus?” Hyusun menaruh sepotong kimbab ekstra itu ke piring di depan Minho.

“Ini buang-buang waktu,” akhirnya ia tetap mencomot kimbab itu dalam sekali lahap. “Soojin eoddigayo?”

“Tidak ada buang-buang waktu untuk makan.” Kang Hyun mengarahkan sumpit itu ke depan hidung Minho.

“Na jeonche, nah, Choi Minho, sekarang apa yang kau minta tadi?” Hyusun menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Minho mendecak sebal. “Baek Soojin eoddigayo?”

Hyusun dan Hyun berpandangan satu sama lain. Mereka mendesah berat. “Uri Soojin-nie, ia tidak mau diketahui keberadaannya sekarang ini. Ia bilang pada kami, tapi tidak mau dibocorkan ke siapapun, apalagi kau,” Hyusun memandang ketus Minho yang memandangnya sinis.

“Wae?”

“Aku akan menceritakannya dari awal pertama,” Hyusun memutuskan. Hyun memandang parternya itu sangsi, “kalau Soojin marah?”

“Memang Soojin pernah marah pada kita, pada Minho juga? Ia galak, tapi tidak tega marah-marah apalagi ngambek.” Hyun mengangguk.

“Seminggu yang lalu, Lee Sungmin, si sunbae imut itu cerita kalau temannya, Lee Hyukjae sedang kabur ke Busan. Aku pokoknya ingat sesuatu tentang ‘bertanggung jawab’ dan ‘menikah’ lalu ‘married by accident‘. Kupikir yang ia hamili bukan orang biasa, setelah kami cari tahu dari informan yang lain, ternyata ia baru saja menghamili,” Hyusun bergerak-gerak aneh di kursinya.

Hyun mendesah berat, “ah, Goo Hyusun, seharusnya kau tidak cerita ke mana-mana.” Minho menatap sangsi kepada dua yeoja itu. Ia mulai kesal, menarik rahasia dari mereka berdua memang tidak pernah mudah. Tatapan Minho mulai mengancam dua yeoja itu.

“Son Eunsoo,” akhirnya Hyun tega mengatakannya pada Minho.

Hati Minho melesak, tatapannya menjadi kosong. Mata bulatnya itu menggambarkan kekosongan yang merana. Ia tidak percaya, Son Eunsoo, gadis manis yang selalu ia lihat dalam diam, hamil anak orang menjijikkan seperti Eunhyuk? Ia tidak percaya, tidak mungkin.

“Maldo andwae…,” suara Minho bergetar. Perih sekali hatinya saat ini. Hyusun dan Hyun sama-sama tidak tega, tapi Minho memaksa. Mereka sama sekali tidak tenang dengan keadaan Minho.

“Kan aku sudah bilang.” Hyun menggumam. Sekarang ia memantapkan suaranya, “karena sudah terlanjur sebaiknya aku mengatakannya.”

“Eunsoo sedang, yah kau bisa bilang menenangkan diri di daerah Jeolla, aku tidak tahu di mana tepatnya. Soojin sedang mencari tahu lokasinya. Untuk apa kami juga tidak tahu.”

Minho menghela nafas sebanyak mungkin dan menegapkan badannya, ia lalu berdiri. “Ne, gomapta. Satu lagi, kau punya nomor Soojin yang bisa dihubungi?”

“Nomor satelitnya masih aktif, kau bisa pakai nomor itu. One more, Choi Minho, aku turut sedih,” Hyusun memasang wajah sedih. Minho hanya mengangguk, lalu ia berlalu pergi.

—–

Son Eunsoo sudah menceritakan semuanya pada Soojin, ia menangis hebat sore itu. Soojin sendiri sudah tidak bisa mengatakan apapun, ia turut prihatin dengan Eunsoo. Tidak menyangka, nasib buruk akan menimpa yeoja manis itu, pikirannya melayang ke Minho. Kalau Minho tahu tentang hal ini…

Setelah mengantar Eunsoo ke kamarnya dan menempati kamar yang disediakan Lim ahjumma Soojin duduk dalam diam. Pikirannya menjalar ke mana-mana sampai ia merasakan sesuatu bergetar di saku celana jins-nya.

Oh, gawat, Choi Minho…

Soojin membiarkan ponselnya bergetar. Ia tidak kuat, tidak tega. Apa Minho sudah tahu? Ia membiarkan ponsel itu bergetar, lama, tapi getar itu tidak berhenti juga. Hatinya gamang.

“Yeoboseyo?”

Soojin memutuskan untuk mengangkat telepon itu. Pertamanya ia tidak mendengar apapun yang berarti, tapi, ia mendengar Minho berdeham.

Baek Soojin-ah,” kata suara di seberang sana. Minho melicinkan tenggorokannya lagi, rasanya susah untuk bicara, mengetahui semua kenyataan ini membuat tenggorokannya kering. “Neo, eoddiyo?

“Bo, Boseong. Waeyo?” Soojin merasakan suaranya bergetar, ia mencoba setenang mungkin walau perasaannya seperti ingin memeluk Minho dan menjaga namja itu dari segala kemungkinan yang membuat namja itu hancur.

Kenapa tidak bilang mau pergi?

“…”

Baek Soojin, kau masih di sana?

“Ne, aku masih di sini, Choi Minho.” Soojin merasakan matanya panas, menggenang di pelupuknya air mata. Lama kelamaan jatuh membasahi pipinya. “Gwaenchanaseyo?”

“Eh, ne? Tumben kau menelepon nomor satelitku. Kenapa?”

Kau tahu kenapa. Aku tidak apa-apa. Obatnya, terima kasih.” Momen-momen seperti ini, saat-saat canggung ketika ia berbicara dengan Minho adalah momen yang paling ia benci, karena selama ini ia merasa begitu dekat dengan Minho.

“Mianhae,” Soojin berbisik.

“…”

Tidak ada jawaban dari Minho, tiba-tiba Soojin mendengar suara sesuatu terjatuh, kaca yang pecah berkeping-keping.

“CHOI MINHO KAU DI SANA?” Soojin mulai panik. “CHOI MINHO!”

Sambungan terputus. Soojin segera menelepon Lee Taemin, tetangga sebelah apartemen Minho dan murid semester tiga K.Arts, ia juga pianis band garasi mereka.

“Taemin-ah,” Soojin tidak basa-basi begitu Taemin mengangkat telepon.

Ne, noona?

“Choi Minho, check him. Tolong tengok dia,” nafas Soojin memburu, terlalu panik.

Soojin mendengar derap kaki, mungkin Taemin segera mengecek ke apartemen Minho, “noona wae irae?

OMO Minho-hyung! Chamkkam noona, Minho hyung pingsan. Aku akan bawa dia ke rumah sakit.

Soojin segera mengemasi barang-barangnya pagi harinya. Ia pamit pada Lim ahjumma tapi tidak pada Eunsoo. Ia meninggalkan pesan kecil untuk Eunsoo agar segera kembali ke Seoul. Ia langsung tancap gas ke Gwangju dan membeli tiket penerbangan yang paling cepat dan segera ke Seoul. Ia tidak peduli dengan sedannya, ia sudah meninggalkan sedan itu di penitipan mobil di Gwangju Airport.

—–

“Baek uisanim,” Taemin spontan berdiri ketika melihat Tuan Baek atau dalam posisinya sekarang Dokter Baek keluar dari ruangan itu. Ekspresinya susah digambarkan.

“Ia, butuh donor. Livernya sudah tidak kuat lagi. Sudah menghubungi walinya?” Soojeong yang ikut menunggui mengangguk. Sayangnya, wali Minho adalah Bibi-nya yang tinggal di Amerika. “Soojin?” Dokter Baek bertanya lagi.

“Baru landing.” Dokter Baek mengangguk, memaafkan Soojin yang berbohong padanya. “Aku akan carikan donor untuk Minho, secepatnya,” Dokter Baek berlalu pergi.

“Aku tidak tahu Minho hyung punya penyakit seperti ini,” Taemin memulai pembicaraan. Di sana ada Soojeong, Kim Jongwoon, dan Taemin sendiri. Keduanya sama-sama mengangguk.

Sejenak hening di antara mereka bertiga sampai terdengar bunyi nafas tersengal. Soojin. “Minho eoddiyo?” Taemin melirik pintu di depan mereka. “Sudah diperiksa.” Soojeong mengangguk, “Appa bilang, ia butuh donor.”

“Appa eoddiyo?”

Jongwoon menjawab kali ini, “sedang mencari donor untuk Minho. Baek Soojin, kenapa kau tidak bilang Minho punya sirosis?” Jongwoon menceramai Soojin, tapi pikiran Soojin hanya melayang ke satu hal.

Donor…

—–

Minho di bawa masuk ke bangsal oprasi. Ada seseorang yang dengan senang hati menyumbangkan separuh livernya untuk Minho. Setelah melalui tes yang cukup singkat, sore ini juga, liver itu dipasang ke tubuh Minho.

Soojeong, Taemin dan Jongwoon masih setia menunggui oprasi Minho. Soojin tidak terlihat di mana-mana. Eunsoo datang pada saat oprasi tengah berjalan. Ikut menunggui Minho. Ia juga mencari Soojin, tapi tidak ada yang mau mengatakan di mana Soojin.

Setelah melewati semalaman masa kritis, Minho sadar. Ia bisa mencium aroma rumah sakit yang dibencinya. Ia merasakan sesuatu dipasangkan di di depan mulut dan hidungnya, oxygen mask. Tangannya di jejali selang infus dan ia bisa melihat monitor di nakas kiri yang merekam kerja jantungnya.

Ia melihat dua namja yang tidur di sofa, Jongwoon dan Taemin. Matanya berputar lagi, mendapati seorang yeoja sedang tertidur dengan posisi yang tidak enak di kasur kecil yang disediakan. Mata Minho berbinar melihat gadis itu, Son Eunsoo.

Ia tahu, Soojin yang membawa yeoja impiannya itu kemari. Seulas senyum terukir di bibirnya melihat Eunsoo yang tertidur menungguinya. Minho ingin bangun, tapi ia tak kuasa. Seulas rasa sakit timbul di bagian perut kanan atasnya. Bukan rasa sakit yang biasa ia dapat karena sirosis, tapi lebih seperti sakit yang perih. Sakit bekas oprasi.

Tunggu… oprasi.

Hanya satu hal yang membuat Minho mendapat sayatan di bagian itu karena oprasi, cangkok liver. Benarkah ada seseorang yang memberikan livernya untuk dipakai oleh Minho? Berarti sekarang ia sudah tidak berjuang dengan sirosis lagi? Ia sekarang sudah sembuh?

“Omo, hyung? Kau sudah sadar?” Taemin terbangun dan mendapati Minho sudah membuka matanya. Minho mengangguk lemah. Taemin menengok arlojinya dan melihat ini masih subuh. Taemin menekan tombol untuk memanggil seorang paramedis untuk mengecek keadaan Minho.

—–

Taemin segera pergi setelah seorang dokter mengecek keadaan Minho. Ia pergi ke sebuah bangsal dua kamar setelah bangsal Minho. Ia mengetuk pintunya, tidak mendapati jawaban ia segera merangsek masuk.

Orang itu masih tertidur. Jantungnya berdetak stabil terekam di monitor. “Mianata, tidak menungguimu.”

—–

Tinggal tersisa seorang namja yang masih dalam masa pemulihan dan seorang yeoja. Mereka tidak memulai pembicaraan, hanya berada di ruangan yang sama, dalam diam.

“Eunsoo-ssi,” akhirnya Minho memberanikan diri memulai pembicaraan.

“Ne?”

“Soojin, ia sudah menceritakannya?”

“Ne, ia datang ke Boseong untuk menceritakan semuanya. Wae?”

“Kau sudah tahu. Aku mungkin terlalu pengecut. Soojin benar.”

“Hoksi, Minho-ssi, masih menyukaiku?”

Minho terdiam. Penasaran tergambar jelas dalam raut wajah Eunsoo. Minho sudah tahu, Eunsoo sedang mengandung anak Eunhyuk. Sekarang wanita itu membuang mukanya agar tidak menatap langsung seorang Choi Minho. Ia sangat, sangat mencintai wanita muda ini.

“Selalu, kurasa,” dua kata itu sukses membuat hati Eunsoo melesak. “Aku tidak peduli Eunsoo-ssi. Apa mau dikata?”

“Hajiman, na,”

“Gwaenchana, Eunsoo-ssi. Toh itu bukan salahmu. Dari pada memikirkan masa lalu, lebih baik memikirkan masa depan, karena kita tidak bisa melakukan apa-apa dengan masa lalu.”

“Gomapseumnida, Minho-ssi,” Eunsoo sudah dibanjiri air mata.

—–

Soojin menyandarkan punggungnya pada tembok. Ia baru saja melihat pemandangan yang luar biasa membahagiakannya. Minho dan Eunsoo, semua, sama seperti apa yang diharapkannya. Tapi hatinya juga merasakan sebersit sakit. Sakit yang lebih sakit dari pada yang ia rasakan. Perasaannya campur aduk, tapi ia bahagia.

Ia mengetuk pintu itu, lalu membukanya. “Minho ah?”

“Annyong, Soojinnie. Kenapa baru datang? Kupikir kau adalah orang yang pertama rusuh saat dengar aku kambuh.” Minho menyapa sahabatnya itu hangat. Soojin tersenyum, lalu melemparkan tawa, “sejak kapan kau lebih penting dari pada festival seni musim panas? Dulu-dulu kau kambuh saat aku tidak ada kerjaan, jadi aku bisa rusuh.”

“Neon eottae? Ajjikdo, apeun gayo?” Soojin duduk di kursi di sebelah ranjang Minho, ia menunjuk perut bagian kanan atas Minho.

[“Apa kabar? Masih sakit kah?”]

“Ani, gwaenchana.”

“Ah, Eunsoo ssi. Urineun, dasi manal. Dangsineun joheun ga?”

[“Ah, Eunsoo sso. Kita bertemu lagi. Kau baik-baik saja?”]

Eunsoo melempar senyum ke arah Soojin, “ne, yoksi nan cheonjaeya.”

[“Iya, aku baik-baik saja.”]

“So, are you guys dating now?” Soojin melirik jahil pada Minho dan Eunsoo. Muka Minho memunculkan semburat merah yang samar sekali. Sayang, mata Soojin terlalu jeli. “I guess you are! Chukkahamnida! Ada traktiran sebentar lagi.”

Minho mendecak sebal, “Musun suriya? Sahabat sakit seperti ini. Aku dan Eunsoo belum resmi, Baek Soojin.”

Soojin mengarahkan pandangan ke Eunsoo, “susah kalau kau punya teman pengecut setengah hidup seperti dia.”

—–

Malamnya Soojin giliran menginap di rumah sakit menemani Minho. Mereka bercanda semalaman. Sampai hari-hari berikutnya, sampai Minho diperbolehkan pulang. Soojin masih sahabat terbaik Minho, ada di setiap saat.

Festival Seni Musim Panas semakin dekat, semakin sibuklah Soojin sebagai ketua Klub Jazz. Ia mondar-mandir ke setiap sudut K.Arts memastikan pasukannya siap memeriahkan festival.

“Soojinnie, kau kelihatan pucat sekali. Selanjutnya biar yang lain yang mengurus, kau tidak usah turun tangan,” Kang Hyun memberinya nasihat.

“Matta, setelah ini kau pulang saja,” Hyusun ikut-ikutan sembari memasukkan bulgogi ke mulutnya.

Soojin mengangguk lemah. Ia tahu sudah jam berapa sekarang ini, jam sembilan malam. Ia lelah? Tentu saja, tapi ia ingin mempersiapkan tiap detilnya, membuat sesuatu yang spesial. Ia Baek Soojin, Baek Soojin tidak setengah-setengah.

Hyun menggelengkan kepalanya, “sejuta kali membujuk Soojin pun tidak akan berhasil. Baek Soojin, our Miss Perfectionist.”

“Ne, tapi jangan terlalu dipaksakan. Rasakan jika kau sakit!” Hyusun tergelak dalam tawa.

Mereka kembali ke ruang kerja mempersiapkan semuanya. Arasemen, dan segalanya sudah siap. Masih ada beberapa minggu sebelum festival. Ini sebabnya Soojin suka menyelesaikan sesuatu di awal, akhirnya ia bisa lebih santai.

Soojin melihat pasukannya juga ikut bekerja keras. Ia melipat tangannya dan menyunggingkan senyum tipis.

“Ah, Soojin sunbae, belum pulang?” Seorang hoobae menyapanya.

“Ne,” Soojin tersenyum. “Sunbae tidak lelah. Aku baru datang tadi sore, kata anak-anak, sunbae sudah datang pagi-pagi sekali. Sunbae pucat sekali, lebih baik Sunbae pulang, kami di sini bisa mengurusnya. Geogjeonghajimarayo.”

Soojin mengangguk, “ne. Just a few minutes more.” Hoobae itu mengangguk dan pergi berlalu.

Soojin duduk di sebuah bangku panjang dan melihat sebuah gitar Lakewood tergeletak begitu saja di sebelahnya. Soojin mengambil gitar itu dan memainkan sebuah lagu. Mengapa ia merasa sangat rindu pada kebiasaan kecilnya ini?

Tiba-tiba Soojin merasakan sesuatu yang tidak enak pada perutnya. Rasa sakitnya hilang, lalu datang lagi. Tiba-tiba, seperti ada yang menusuk. “Awh,” Soojin mengerang saking sakitnya.

“Sunbae?” Seorang hoobae melihatnya menahan sakit. “Sunbae gwaenchanaseyo?”

Soojin tidak tahan dengan rasa sakitnya. Ia melihat beberapa orang mendatanginya, lalu semuanya hitam.

—–

Hari itu, semua keluarga Baek berkumpul, untuk entah berapa lama. Nyonya Jung dan Sooyeon mengambil penerbangan paling cepat dari Massachusetts dan Tokyo untuk kembali ke Seoul. Soojeong mengabaikkan kelasnya dan memilih berkumpul. Dokter Baek menyerahkan pasiennya yang lain pada dokter lain karena ia sedang berkonsentrasi penuh pada pasien ini.

Baek Soojin, gagal ginjal.

Sudah lama Soojin tahu ada sesuatu dalam ginjalnya. Semua anggota keluarganya juga sudah tahu, keluarga dekatnya juga. Soojin pekerja keras, perfeksionis, dan itu menghancurkannya. Belajar, jika ia sudah terjun dalam sesuatu, ia tidak menganggapnya setengah hati. Berdampak pada kesehatannya yang sekarang. Efek dari menjaga Minho sampai larut malam juga.

“Appa, apa Eonnie bisa bertahan?” Soojeong bertanya dengan penuh harap. Ia tidak rela kehilangan Eonnie-nya, tidak sekarang. Ginjal Soojin sudah tidak beroprasi, membuat darah kotor mengalir di tubuhnya dengan lancar, menghambat akses oksigen pada tubuhnya. Dokter Baek mengendikkan bahunya lemah.

Nyonya Jung dan Sooyeon juga harap-harap-cemas. Gadis keluarga Baek yang paling berbeda. Dari semalam, Soojin belum membuka matanya. Selang-selang dipasangkan padanya untuk mencuci darahnya. Kalau tidak segera mendapat donor, mungkin Soojin harus hidup bergantung pada selang-selang itu, dan pilihan lainnya hanya, kembali pada Sang Khalik.

“Ia butuh sepasang, tidak sepasang, tidak akan bertahan.”

“Aku dan Sooyeon eonnie bisa menyumbang masing-masing ginjal kami Appa.” Soojeong merayu ayahnya.

“Andwae. Secara medis dan psikologis tidak bisa. Soojin memiliki HLA yang berbeda dari kalian. Aku dan ibumu juga tidak. Dan walau ini perkara Soojin, aku ingin kalian berdua tetap utuh.”

Setitik air mata bergulung di ujung mata Nyonya Jung, “Soojin, tidak akan mau hidup dengan selang. Ia tidak cocok untuk itu.”

“Bagaimanapun kita harus mencari donor bukan?”

—–

Minho sedang menikmati makan siang murah a la anak kuliahan dengan beberapa temannya. Tertawa di sana-sini, tidak ada yang perlu ia khawatirkan lagi, ia sehat, sepenuhnya sehat. Sekarang ia bisa merasakan serunya menjadi haksaeng sepenuhnya, karena kegembiraan itu telah direnggut sejak ia masih usia sekolah dasar.

“Minho-ya, tumben sekali kau ikut makan siang seperti ini. Biasanya kau tidur-tiduran atau main dengan Baek Soojin,” salah satu temannya tertawa renyah. Momen seperti ini, dimana Minho ikut menggerombol bersama haksaeng namja yang lain sebelumnya bisa dihitung dengan jari.

Minho tersenyum, “tidak boleh? Paling Soojin sedang sibuk dengan festival.”

“Sore nanti kutraktir bossam dan yah, minum sedikit tidak apa-apa kan? Dua Minggu lagi aku akan menikah, seon, biasa. Pesta lajang?” Suasana menjadi riuh-rendah. Semua mengangguk mengiyakan.

Lee Taemin memasuki kedai makan itu dengan Soojeong dan Kim Jongwoon. Semalaman mereka bertiga menjaga Soojin, siangnya mereka mengambil kelas. Taemin baru akan memesan ketika melihat Minho sedang duduk-duduk santai dengan beberapa haksaeng senior. Taemin merasakan sesuatu yang janggal kemudian menepuk bahu Minho.

“Hyung,” Taemin menyapa dengan nada yang sangat datar.

“Oh, Taemin-ah. Ddo mannayo.”

[“Oh, Taemin. Kita bertemu.”]

“Ne. Aku tidak melihatmu di rumah sakit hyung.”

“Aku, di rumah sakit? Aku sudah sehat Taemin-ah, sudah tidak perlu kontrol-kontrol lagi.” Minho tertawa renyah. Bagaimana dongsaengnya ini menanyakan sesuatu yang konyol.

Taemin menggeleng, kenapa rasanya ia sesak sekali. “Bukan, bukan kau. Kau tidak menemui Soojin noona?” Taemin mendengus kesal, siap-siap menaikkan nada suaranya. “Kau menyebut dirimu saahabat noona tapi kau tidak tahu bahwa noona sedang meregang nyawa?”

Melihat muka Taemin yang memancarkan kebencian dan sinisme, Minho ikut mengganti rautnya menjadi bingung. “Musun suriyeo?”

“Mollayo, Minho ssi? Ah, benar-benar habis manis sepah dibuang ya? Aku benar-benar tidak habis pikir.”

“Ya! Lee Taemin!”

“Kalau aku sahabat Soojin noona, aku sudah tahu 24/7 apa yang dilakukannya.”

Taemin meninggalkan Minho yang masih dengan raut bingung. Ia kembali pada meja Jongwoon dan Soojeong lalu mereka pergi dari kedai itu dan ke sebuah restoran fast-food yang tidak begitu jauh.

—–

Minho tidak ikut rombongan teman-temannya makan bossam dan minum soju. Ia pergi ke rumah sakit. Saat baru sampai di lobby, ia melihat Sooyeon sedang berjalan sendiri menuju pintu keluar rumah sakit.

“Jung Sooyeon ssi?” Minho menyapa Sooyeon. Ia disambut senyum tipis dari Sooyeon.

“Baek Soojin-ah, eotthokhara?” Minho langsung pada intinya, bertanya keadaan Soojin.

Sooyeon hanya menggeleng pasrah. “Ia, masih belum bangun.”

“Eoddiseo?”

[“Dimana?”]

Sooyeon memberi tahu Minho bangsal perawatan Soojin. Yeoja itu di rawat di bangsal perawatan khusus. Dari kaca, ia melihat Soojin digerayangi oleh selang-selang dan wajanya ditutup oxygen mask. Monitor detak jantung di nakas kiri masih setia menggambarkan detak jantung yeoja itu, teratur, tapi terlalu lemah.

Minho membuka kenop pintu. Apa gerangan yang telah terjadi pada sahabatnya? Ia menarik kursi mendekatkan diri pada Soojin yang masih terlelap dalam tidurnya. Minho menemukan berkas kecil pada nakas di kanan. Berkas catatan kesehatan kiranya. Ia membuka, Soojin pernah mengajarkan cara membaca berkas catatan kesehatan sebelumnya, dulu Minho suka membaca miliknya. Semakin membukanya semakin Minho mengetahui apa yang diderita Soojin. Gagal ginjal. Semua ginjalnya kolaps. Dan bodohnya, semua itu berawal dari enam bulan yang lalu. Ia merasa bodoh, sebagai seorang teman.

Minho menggenggam tangan Soojin. Dorongan hati saja ia melakukannya. Perlahan ia merasakan jemari Soojin bergerak di dalam kepalan tangannya. Ia kemudia melihat yeoja itu membuka matanya perlahan.

Minho hendak menekan tombol panggilan paramedis, tapi Soojin menggeleng, menyuruhnya melepaskan masker oksigen yang ia kenakan.

“Tidak usah, sudah saatnya aku bangun,” Soojin mengulum senyum dari wajah pucatnya. Minho duduk kembali di kursinya.

Ia melihatkan catatan berkas kesehatan Soojin pada pemiliknya. “Kau bisa jelaskan ini?” Walaupun tidak terlihat seperti tertawa, Minho menyimpulkan Soojin tertawa.

“Kalau aku beri tahu sejak lama, tidak akan bedanya ‘kan?”

“Kau yang bilang padaku bahwa semua hal di dunia ini adalah pilihan. Dan kau bilang pilihan itu seperti domino,”

“Yang akan mengakibatkan efek pada waktu jangka panjang,” Soojin menyela Minho yang mengatakan hal yang menjadi prinsipnya. “Kuberi tahu kau, Tuan Choi, memang seperti itu. Tapi dalam kasus ini, dominonya bercabang, lalu kembali lagi pada satu jalur. Jadi tidak akan banyak bedanya.”

“Kukira kau sahabatku,” Minho mendengus, “tapi, kau tetap menyembunyikan sesuatu. Sepenting ini pula!”

—–

Malamnya, Minho punya janji makan malam dengan Son Eunsoo.

“Minho-ya. Aku tidak mau bertele-tele, jadi kukatakan saja. Aku akan ke Amerika.”

“Miguk-haeyo?”

[“Amerika?”]

Eunsoo meneguk minumannya, “ne. Ke Boston. Agrikultur. Mereka punya program khusus untuk mahasiswa yang memiliki anak. Biarlah keluargaku dan pengacaraku yang mengurus Hyukjae, menemui orang itu terasa seperti aib bagiku.”

“Mianhanda, Minho-ah. Tapi, aku tidak pernah merasa pantas untukmu. Kau namja yang baik, benar-benar baik. Aku akan merasa seperti nappeun yeoja jika aku memintamu di sisiku.”

And Minho, left in speechless… Tapi, ia tidak merasa kosong. Ia tidak merasakan apa-apa. Justru rasanya, hatinya rela-rela saja melepas kepergian Eunsoo. “Ne, kalau kau rasa itu yang terbaik untukmu, kurasa aku tidak bisa melakukan apa-apa.”

“Lusa aku akan berangkat. Besok mungkin aku sibuk menguruski kepindahan dan imigrasi. Aku tidak bisa menemui Soojin. Sampaikanlah aku banyak berterima kasih padanya. Kelak, aku akan hidup bahagia untuknya,” Eunsoo memamerkan senyum yang benar-benar tulus. Minho menggaruk tengkuknya bingung.

“Karena Soojin, aku punya pemikiran jauh kedepan. Ia mengatakan padaku, untuk hidup demi kebahagiaanku, untuk hidup mencari kebahagiaan. Aku, akan bahagia, Minho-ya.”

Minho mengangguk paham. Jalan pikiran Soojin yang ia nilai rumit. Teori gadis itu terhadap kebahagiaan.

“Gomawo-yo, untuk semuanya.”

“Ne, live well, Eunsoo-ya.

—–

Minho sudah meniati untuk menjaga Soojin malam ini. Kemarin pasca oprasinya, Soojin dengan setia menungguinya. Sampai di koridor, ia melihat Taemin, sendirian duduk di bangku tunggu.Minho memutuskan untuk tidak masuk, duduk tiga kursi dari Taemin.

“Kau baru tahu?” Jujur, Taemin penasaran akan sesuatu.

“Ne, aku baru tahu, dan aku tidak akan menganggap aneh sikapmu di kedai waktu itu. Aku memang bodoh.”

“Dan kau sudah tau hal yang lain?” Taemin menatap Minho. “Hal yang lain, apa?”

Taemin menghela nafas, dalam-dalam, “banyak hal yang kau tidak tahu rupanya.” Taemin mengeluarkan sepucuk buku. Terlihat seperti scrapbook. Sampulnya di buat dari potongan-potongan kain. Ada banyak perangko dan stempel yang di tempelkan sekenanya di situ. “Noona, menulis semuanya di situ. Na, kanda, aku hanya ingin memberikan itu. Itu untukmu.”

Taemin berjalan pergi.

Minho membuka halaman pertama. Tulisan tangan Soojin yang rapi, menandai buku itu sebagai milik yeoja itu.

Ini mungkin akan jadi tulisan paling aneh. Tapi, pertama kali melihatnya, aku berani bersumpah ia malaikat salah tempat. Aku mengenalnya saat berumur sepuluh tahun, namanya Choi Minho.

Sayangnya ia datang ke Appa karena sakit. Bagaimana hidup tidak adil! Dan, kurasa ia tidak ada bedanya dengan moving corpse, karena dia sudah tidak semangat hidup. Well, here’s Baek Soojin, I’d try my best to lift up his spirit!

Halaman-halaman selanjutnya berisikan foto-foto. Soojin kecil dan Minho kecil. Foto kelulusan SD mereka, foto kelas dan sebagainya.

Kalau aku jatuh cinta padanya? Pemikiran bodoh! Ah, tapi itu kejadian. Aku ini teman atau apa sih?

Tertandanya tahun-tahun saat mereka SMA. Daripada foto berdua, lebih banyak foto-foto Minho. Entah ia tertidur, atau sedang memandangi buku, sedang melatih saksofonnya. Gambar Soojin sedikit.

As long as he’s happy, I’m happy as I can be. He doesn’t put efforts to make him happy, so I guess, I’d like to help him wholeheartedly….

Ada potret-potret Eunsoo. Entah bagaimana foto Minho dan Eunsoo diedit manual.

Dan itu akhirnya, halaman-halaman selanjutnya belum diisi. Kertas berwarna kekuningan dan berbau cendana itu kosong melompong. Sampai akhirnya, Minho menemukan sebuah halaman. Tulisannya kecil-kecil. Ditempeli foto kecil juga. Foto dimana Soojin mengenakan baju oprasi dan Minho juga. Tertandanya saat hari ia mengalami transplantasi liver…

Hari ini, separuh ‘hatiku’ akan ada bersamanya. No matter how, I’d be still alive, within him.

Sungai kecil mengali di pipi Minho. Ia merasa sangat bejat dan tak berhati. Bagaimana sahabatnya ini rela melakukan hal sebanyak itu untuknya. Ia mencoba mengingat apa yang sudah Soojin lakukan untuknya. Ia mengingat, sampai pusing sendiri karena ia merasa Soojin sudah melakukan terlalu banyak.

Minho menghapus air matanya dan masuk ke ruangan Soojin. Gadis itu tertidur dan Dokter Baek tertidur juga di sofa. Tiba-tiba Dokter Baek terbangun. Melihat Minho beliau pun tersenyum. “Ah, Minho-ya.”

Lidahnya menjadi kelu. Melihat betapa baiknya Dokter Baek padanya selama ini, dan putrinya, putrinya yang serela itu melepaskan salah satu organ terpentingnya untuk Minho. “Baek uisanim, boleh aku menanyakan sesuatu?”

“Ah, ya, pasti tentang itu. Entah cepat atau lambat, aku sudah tahu kau akan menanyakan itu. Liver Soojin, bukan?” Minho mendadak kelu, mendengar betapa santainya dokter kawakan ini berbicara.

“Satu hal, Minho-ya,” Dokter Baek mempersilahkan Minho duduk di sampingnya. Minho menurut. “Aku, selalu ingin anak-anakku hidup bahagia. Dari mulai Sooyeon, Soojin dan Soojeong, aku tidak sampai hati melihat mereka melakukan hal yang mereka tidak sukai.”

“Eomma mereka ingin mereka punya karir akademik, menjadi pemikir. Tapi, semua terserah mereka. Aku menginjinkan Sooyeon menjadi model, aku sekolahkan Soojin tinggi-tinggi agar dia bisa menciptakan musik yang indah yang akan menghibur dan membahagiakan orang lain, aku sekolahkan Soojeong tinggi-tinggi pula agar orang-orang bisa melihat apa yang ia lihat lewat mata dan imajinasinya.”

“Satu hal Choi Minho. Saat melihatmu membutuhkan donor, Soojin dengan senang hati mendonorkan livernya. Awalnya aku menolak dengan keras, dan kau tahu apa yang ia katakan?” Minho menggeleng lemas, sudah tidak kuat lagi mendengar kebaikan Soojin yang entah keberapa kalinya padanya.

Dokter Baek mengangguk, “‘Appa bilang, kita hidup untuk mencari kebahagiaan. Kalau aku merasa bahagia saat aku bisa menolong mereka yang sedang meregang nyawa? Dan saat ini Minho sedang membutuhkan bantuan, aku bahagia jika bisa membantunya.’ Setelah itu aku tidak bisa berkata apa-apa. Ibunya tidak bisa menghentikan Soojin, kau tahu gadis itu sangat determined, ambisius, dan kalau sudah meniati sesuatu, ia akan memberikan semua usahanya.”

Keheningan menyeruak dalam ruangan itu. Mereka bisa merasakan bunyi detak jantung saking heningnya. Dokter Baek menghela nafas dalam-dalam, “caranya menemukan kebahagiaan itu, benar-benar aneh. Malam ini aku titip Soojin ya? Jalja-yo.” Dokter Baek keluar dari ruangan itu, meninggalkannya dengan Soojin yang entah berada di mana sekarang nyawanya.
—–

Waktu…

Ia tahu waktunya tidak banyak, ia tahu Ia tidak akan punya kesempatan yang sama lagi. Apakah itu besok, ataukah dalam detik ini Ia tidak tahu. Yang jelas, sebentar lagi. Ia harus mengatakannya, tapi tak kuasa.

Sesuatu berdenting di kepalanya membuat Ia membuka matanya dari gagasan-gagasan itu.

Melihatnya terbaring seperti itu, tenang dan damai membuat hatinya luruh. Entah mengapa semua gagasan yang berkelebat di pikirannya melebur.

“Aku tahu aku tampan,” suara itu membuyarkan pikirannya. Ia melicinkan tenggorokannya. Ia merutuki namja itu pelan.

Kemudian, si namja tersenyum, “merasa baikan?” Ia memberengut, “asal tidak ada selang, aku dalam keadaan yang paling baik.”

“Yah, selangnya kan berguna, Baek Soojin.” Kemudian namja itu membawa nampan berisi sarapan untuk Soojin. “Makan sendiri?”

Soojin mengangguk. Namja itu menyiapkan meja ranjang dan menaruh nampan itu di situ. Soojin membuka salah satu mangkok dan mendesah berat. “I definitely don’t have any appetite now.” Lembek, entah cair entah padat, bubur memang musuh Soojin.

“Bersyukurlah kau masih diberi makan.” Tapi, Soojin menolak dan mendorong meja itu. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di nakas dengan headset yang masih lengkap.

“Hey,” namja itu menyapa Soojin, membuat gadis itu tidak jadi memasang penyumpal kuping.

“Ya?”

Ini hanya perasaannya atau rasanya ruangan ini mendadak dalam keadaan canggung. “Kau tahu, semalam aku sudah tahu, tentang,” namja itu berdehem, membuat Soojin mengernyit was-was. “almost, everything.

Si namja buru-buru mencari sesuatu dari dalam selimut. Kemudian Ia menunjukkan sepucuk buku dengan sampul kain-kain perca. “Kau yang menulis ini?”

Soojin menggigit bibir bawahnya, “bohong padamu tidak akan berguna kan?”

“Kenapa? Apa masih karena teori kebahagiaan itu?”

“Ya, dan selalu karena itu.”

“Itu teori yang bodoh.”

“Kau tahu kenapa? Karena aku hidup untuk kebahagiaan. Dan aku sudah menemukan kebahagiaanku, aku akan melakukan apa saja untuk mempertahankan kebahagiaanku, sekalipun mempertaruhkan nyawaku. Terdengar egois kah?”

Namja itu menatap sinis ke Soojin. “Sangat egois. Kau tidak memikirkan bagaimana orang-orang yang menyayangimu akan merasa kehilangan? Akan merasa kosong, hampa dan berbeda?”

“Kau adalah seuntas tali dan kebahagiaanku adalah sebuah bandul yang bergantung pasrah padanya. Tertambat pada seorang Choi Minho. Bandul itu masih dipengaruhi gravitasi! Jatuh berkeping-keping saat si tali lepas. Aku, aku tidak mau hancur berkeping-keping.”

Minho bisa melihat air mata menggenang di pelupuk mata Soojin. Hatinya kebas, mendengar suara Soojin, Ia merasa hutang nyawa pada seribu orang.

“Jadi tolong,” suara Soojin menjadi serak, “jangan buat aku hancur. Jika kau akan menanyakan kenapa itu kau, aku juga tidak tahu.”
—–

Hari ini normal, senormal hari-hari sebelumnya. Musim semi yang menghangat, menyambut datangnya musim panas yang ceria. K.Arts hari itu agak lengang, tidak seramai biasanya. Maklum, hari Sabtu, sibuk bersantai ria setelah lima hari mencabut rambut.

Minho dan Soojin berjalan berduaan. Tadi, Soojin bersikeras membawa Fender Jazzmaster-nya sendiri, tapi Minho memberikan death glare yang membuat Soojin menyerah. Hari itu terasa sangat spesial.

Mereka sampai di sebuah ruangan, ada Taemin si pianis, Jongwoon si vokalis dengan partnernya Seohyun, dan entah mengapa, Choi Siwon si drummer kece itu dengan senang hati menabuh drum untuk band garasi ini. Tak luput, seorang dosen killer, Yoon seonsaengnim suah siap dengan cellonya. Kalau ditambah Soojin dengan gitarnya dan Minho dengan saxophonenya, lengkap sudah mereka.

“Tuh kan, apa kata Kim Jongwoon memang benar, kalian itu cocok,” Jongwoon menyeringai jahil melihat dua dongsaengnya.

“Ah aku iri, padahal sejak jajan ingusan aku mengincar Soojin,” Siwon ikutan bercanda, walau apa yang baru saja Ia katakan ada benarnya. Semua orang dalam ruangan itu tertawa.

Mereka keluar dan mendapati keluarga besar Baek, Paman dan Bibi Minho, keluarga kecil Seo dan istri anak Yoon seonsaeng duduk di barisan depan teater gladi K.Arts. Semua anggota band garasi itu–Siwon dan Yoon seonsaeng hanya bintang tamu sejujurnya–mengambil posisi dan mulai memainkan lagu. Awalnya hanya lagu-lagu milik musisi-musisi terkenal yang diaransemen ulang. Seperti lagu-lagu Dave Koz, Kenny G atau Ray Charles.

Kemudian lagu yang dibuat band ini. Lagu indah berjudul Drawing Rainbows yang dikerjakan Soojin liriknya. Jongwoon dan Seohyun enggan menyanyikan lagu itu, dan kesemua anggota band garasi itu memaksa Soojin menyanyikan lagunya sendiri. Jadilah Ia pesakitan yang dengan suaranya yang dibilang jelek tidak bagus tidak, menyanyikan lagu itu.

Cause your smile worths golds
And you’re eyes grow sorrows
I’d rather draw rainbows in the sky
So you can show me your smile
Because you smile, I’m feeling sun becomes brighter

Tepuk tangan riuh rendah setelah lagu itu. Kemudian mulai satu lagi. Soojin melepaskan gitarnya dan memberikannya pada Jongwoon agar dimainkan oleh sepupunya itu. Lalu Ia mengalungkan sebuah saxophone. Entah mengapa sejak Ia mengenal saxophone dan Minho secara bersamaan, Ia ingin sekali memainkan lagu ini. It’s Always been You milik Dave Koz dan Hello Tomorrow.

Setelah dua lagu itu selesai, semua orang bertepuk tangan riuh rendah. Nyonya Jung menitikkan air mata.
—–

Akankah kalian akan merasa kehilangan? Kalaupun iya tidak akan ada gunanya, karena meski tanpa aku, dunia tetap mendongeng cerita yang lain. Mungkin ceritaku sampai di sini saja, tapi jelas, aku sangat ingin mendengar cerita kalian.

Sudah jam sembilan malam. Sebenarnya ada banyak orang tadi di ruangan ini, kamar Soojin. Tapi hanya tersisa Soojin dan Minho sekarang. “Kemarilah, dingin.” Minho menurut dan duduk di pinggir kasur Soojin.

“Bagaimana, hari ini?”

“Kelewat menyenangkan. Aku tidak tahu apa ada hari yang lebih baik dari hari ini,” seulas senyum tersungging dari bibir Soojin. Minho ikut tersenyum.

“Setelah hari ini, apa semua akan menjadi normal?”

Soojin berpikir sejenak, mencerna kata-kata Minho barusan. “Mmm,” masih berpikir, “entahlah. Normal kan relatif.”

“Aku mulai sadar aku punya perasaan spesial padamu,” atmosfir ruangan itu berubah menjadi serius. “Bukan sebatas sahabat.”

“Oh, ayolah Minho. Aku sudah berkata jutaan kali kalau itu hutang budi, lupakanlah jauh-jauh!” Soojin memukul kecil lengan Minho.

Minho mendekatkan posisinya dengan Soojin. “Kalau itu bukan hutang budi? Bukan juga hutang nyawa. Hanya, perasaan, kau juga terlibat. Soojin-ah, jangan membohongi perasaanmu.”

Soojin malah kesal sendiri, “bukannya harusnya aku yang mengatakan itu? Kalau bukan hutang budi dan hutang nyawa, lalu apa?”

Minho gusar harus menjawab apa. “Perasaan namja kepada yeoja? Aku tidak tahu kenapa aku mengatakan hal ini. Geuroyo,”

Soojin menanti kata-kata selanjutnya dari mulut Minho. “Saranghae.”

Satu kata itu, menjelaskan semuanya. Lidah Soojin terasa kelu dan perasaannya membuncah seperti kembang api di tahun baru. Soojin mencoba duduk dan menyejajarkan diri dengan Minho. Menatap nanar tapi berbinar dengan kilatan-kilatan senang bukan main.

Minho merengkuh pundak Soojin. Perlahan wajah mereka, lalu bibir. Soojin meremas kaus Minho. Lumatan-lumayan hangat dan penuh kasih sayang membuat listrik seperti menjalari saraf-sarafnya. Kemudian, mereka saling menarik diri sendiri.

“Yang tadi itu jujur Baek Soojin,” Minho tersenyum, membuat Soojin menghambur ke pelukan namja itu. Minho memeluk Soojin erat, tidak akan rela melepaskan yeoja ini. Lalu Minho berbaring, dengan Soojin yang masih ada dalam pelukannya.

“Soojin-ah, kau harus mengatakan ‘Hello Tomorrow'”
—–

Esoknya dunia tetap mendongeng, tanpa Soojin karena kisahnya sudah selesai.

mewek…. ini aku bikinnya juga sambil mewek sendiri kenapa ceritanya bisa kayak gini… huououo….. aaaaaa!!!!! Kalok baca ini mewek, bilang yaah? Biar aku bisa bangga sendiri….

Advertisements

what's with it?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 1, 2012 by in ff-sequel, therandomgirl and tagged , , , .

it’s all under copyright dude~

Protected by Copyscape Unique Content Check

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: