kurofluid

welcome to the wonderland, be nice and kind, and I won't bite

I Know – Entwined [1.2]

Author : @fafaaaw a.k.a fafacintamakan & imsookbin

Title : I Know – Entwined

Casts : Baek Soojin, Choi Minho

Support Casts : SMEnt. Artist

Genre : Romance, Fluff, Psycho.

Kau tahu kenapa? Karena aku hidup untuk kebahagiaan. Dan aku sudah menemukan kebahagiaanku, aku akan melakukan apa saja untuk mempertahankan kebahagiaanku, sekalipun mempertaruhkan nyawaku. Terdengar egois kah?

Pagi itu, seperti pagi-pagi biasanya di musim semi di Seoul, semua tampak cerah dan menyenangkan. Matahari bersinar cerah dan bunga-bunga bermekaran di sana-sini, menyenangkan mata. Hari baru seseorang di mulai di sini, dan sebuah cerita yang mengesankan, juga bermuara di sini.

K.Arts, salah satu institut seni terkemuka di Korea, terlihat sama, sibuk dengan etnik dan pernik-perniknya di sana-sini. Murid-murid yang membawa alat musik, atau yang membawa apapun itu. Yang jelas, di pagi yang cerah itu, sudah siap untuk diberi wahyu. Tapi, ada satu yang menarik, seorang namja dengan perawakan tinggi, berjalan lesu ke sebuah bangku panjang yang dihuni seorang yeoja yang sedang bergumul dengan gitarnya.

“Soojin-ah,” namja itu membuyarkan konsentrasi yeoja itu pada gitarnya. Si gadis menoleh, dan menyapanya, “annyeong. Lusuh sekali.”

“Aku ada kelas jam sepuluh, bangunkan kalau sudah mau mulai.” Namja itu menyenderkan badannya pada sandaran dan memejamkan matanya, tidak perduli dengan hiruk pikuk kampus. Soojin mengendikkan bahunya, kembali bergumul dengan gitarnya. Heran dengan namja itu, masih sempat ingin tidur meski kelasnya mulai tidak sampai satu putaran jarum jam.

“Choi Minho! Ppali ireonabwa, atau kau akan kutinggal ke kelas Yoon-seonsaengnim.” Soojin menarik-narik lengan panjang namja bernama Choi Minho itu agar lekas bangun, awalnya ia tak tega, saat ingat dosen yang mengajar adalah Yoon-seonsaengnim, ia lebih baik membangunkan Minho daripada si namja ini harus menjadi “pesakitan”.

“Aiish… ah, jincca. Ne, gomapta, Baek Soojin.” Minho menegakkan duduknya dan mengerjapkan matanya. “Semalam kau tidak tidur pasti? Sudah kubilang berapa kali untuk tidur huh? Neo jeongmal baboya, Choi Minho.”

“Geurae, akan aku ingat lain kali,”

Seseorang melintas di depan Minho dan kepalanya mengikuti kemana orang itu pergi. Soojin menggeleng heran, sekali lagi. “Ah, Choi Minho. Kenapa tidak bilang saja kau menyukainya, apa susahnya sih?”

“Ah, dwasseo. Kau mau dipenggal Yoon-seonsaengnim huh, Baek Soojin?” Minho berdiri dan membawa tasnya.

“Ne, kau ini. Choi Minho chamkkaman!”

“Mwoya?” Minho bertanya dengan nada malas-malasan.

I’ll make sure your eyes keep wide open during the class.” Soojin menyeringai jahil. Minho menggeleng-geleng tidak perduli.

—–

Kelas selesai pada jam makan siang, Minho keluar kelas dengan malas, segera mencari sebuah bangku panjang atau pohon rindang, untuk tidur lagi. Matanya terasa berat, kelopaknya minta waktu rehat. Lagi pula badannya serasa akan remuk saking lelahnya. Tidak ada alasan untuk tidak tidur, kelas berikutnya masih satu jam lagi, tidak tabu untuk tidur bukan?

“Aigoo, your longing for sleeping is as huge as the world, no? Kau tidak mau makan dulu?” Soojin mengikuti Minho yang jalannya sudah seperti orang sakaw.

“Kau, bisa tidak, hari ini saja, berhenti menggangguku tidur?”

“Tidak bisa kalau kau jalan saja sudah seperti orang sakaw. Kajja, kutraktir kau, baru boleh tidur lagi. Kapan sih, kau bisa menikmati hidup kalau kerjaanmu dari waktu ke waktu hanya tidur?” Soojin meniupi poninya dan berjalan diikuti Minho. Minho sudah pasrah, lebih parah kalau misalnya gadis di depannya ini mulai ceramah tentang menjadi sehat. Lebih baik seperti ini, ditraktir.

“Berhenti menggangguku tidur setelah ini. Janji?” Minho memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya. Soojin mengangguk, walau matanya tidak terarah ke Minho tapi galbitang di depannya.

Baek Soojin dan Choi Minho, kalau dilihat sekilas mirip sepasang kekasih. Mereka dekat, sejak lama malahan. Mereka sudah mengenal satu sama lain, tak ayal jika banyak yang mengira mereka sepasang kekasih, karena hampir kemana-mana, selalu berdua. Sayangnya, estimasi kebanyakan orang salah, mereka hanya sahabat, tidak lebih, tidak kurang.

“Oh, keurom.” Soojin berseru ditengah keheningan waktu makan mereka.

“Mwo?”

“Kemarin kudengar Eunsoo baru putus dengan Donghae. Ada kesempatan nih,” Soojin menyeringai jahil, sebelum dirutuki Minho, ia mengambil sepotong daging.

“Kau tahu aku tidak bisa, Baek Soojin. Dwasseo, sudah kubilang aku sudah tidak suka dengan Son Eunsoo.” Minho hendak mencomot sepotong daging di mangkuk Soojin karena daging di piring saji sudah habis disikat Soojin dan Minho sendiri. “YA! Choi Minho, jangan ambil daging sembarangan!”

“Dagingnya sudah habis kau makan, Baek Soojin. Jatahku kau ambil semua.” Minho dengan santai memasukkan daging itu ke dalam mulutnya. Soojin bergumam mengutuki Minho, lalu kembali makan. “Siapa yang membayar sih? Dasar!”

“Jadi kau tidak ikhlas? Bilang saja dari tadi, mending aku tidur kalau begitu.”

“Andwae, andwae. Gwaenchanaseyo. Makan saja lagi.” Minho menyembunyikan tawa sambil mengunyah makanannya. Ia masih bisa mendengar Soojin merutuki dirinya sambil makan.

“So, benarkah, kau sudah tidak suka dengan Son Eunsoo? Bukannya aku tidak percaya, hanya tidak terdengar riil.” Minho menghentakkan sumpitnya dan menatap Soojin dalam-dalam. Soojin menelan makanan yang sudah ia kunyah sampai berbunyi mendapat tatapan seperti itu. “Wae gurae?”

“Tidak bisa bahas yang lain?” Minho memandang ke jendela. Soojin menggigit bibir bawahnya, “mian. Aku cuma penasaran.”

Even, I was still like her, you know perfectly well I can’t. At least, miracle come on me.

“Aku tahu kau masih menyukainya. Go for it! Berjuang demi kebahagiaanmu itu tidak salah.”

“Namanya egois kalau begitu. Bagaimana kalau di tengah jalan aku meninggalkannya, kalau ia merasa sakit? Aku tidak akan merasa bahagia dengan seperti itu.”

“Setidaknya, she wouldn’t remain as a legend that you can’t tame. Lagi pula kau pede sekali, memang ada yeoja yang akan menangis untukmu? Maldo andwae!”

“YA!”

“By the way, kau mau bantu aku latihan yah? Sabtu besok, di garasi? Lagunya kukirim via e-mail nanti malam, arachi?” Soojin merayu Minho, mereka sudah sering partner-up untuk latihan-latihan musik semacam ini. Kalau sedang lengkap dengan anggota lain–ada dua anggota lain–mereka terlihat seperti band garasi, karena mereka juga latihan di garasi rumah Soojin.

“Shireo.” Minho menjawab singkat. Soojin memberi death glare pada Minho, “dasar teman tak tahu diuntung kau Choi Minho.”

“Arasso, apapun untukmu, nae gongju mama….. Lagi pula aku juga butuh latihan, lama tidak dilumasi.”

—–

Minho datang Sabtu itu, langsung masuk ke garasi basement rumah Keluarga Baek yang memang hampir selalu sepi. Miripnya, Soojin sendiri yang tinggal di sini. Ibu Soojin seorang ahli Bio-Kimia yang sedang riset di Massachusetts dan ayahnya adalah seorang dokter spesialis kenamaan.

“Annyeong? Soojin-ah neo eoddiya?” Minho mendapati garasi itu kosong, hanya ada peralatan band yang biasa di dalamnya. “Igeo yeoja, jincca.” Minho mulai masuk lebih dalam, tidak mendapati Soojin juga di sana-sini, sampai masuk ke dalam ruang peralatan mobil pun Soojin tidak ketemu.

Sementara yang dicari, sedang berjalan santai dengan kantong kertas belanjaan yang dari baliknya menyembul baguette panjang. Ia masuk dari pintu depan dan malah asyik sendiri di dapur, memasak sesuatu dengan memutar musik kencang-kencang. Toh, rumahnya kedap suara, tidak khawatir dengan komentar tetangganya.

Minho mendengar suara musik rock kencang dari arah dapur segera merutuki Soojin dan naik ke dapur. Soojin terkejut dan langsung mematikan musik pada iPodnya yang terhubung ke stereo. “Eh, Choi Minho, aku tidak tahu kau sudah datang.”

“Kau kemana saja sepuluh menit terakhir?” Minho melirik kantong belanjaan yang isinya sudah keluar setengah.

“Baru datang sih, kukira kau akan datang agak nantian, mau tidur dulu mungkin? Makanya aku mau bikin cemilan dulu. Nah, berhubung kau ada di sini, bantu-bantu juga boleh?”

“Shireo. Kalau sudah selesai bangunkan aku.” Minho menarik kursi di minibar dan menelungkupkan tangannya, memasukkan kepalanya pada tangannya yang terpaut. Soojin mengangkat bahu dan melanjutnya kegiatannya sebelumnya. Kali ini memasang headset agar tidak mengganggu tidur Minho.

—–

“Sejak kapan kau jadi 5inner?” Minho melihat jejeran rapi koleksi CD dan DVD milik Soojin yang ada di garasi untuk mengambil medley lagu yang akan mereka mainkan.

“Sudah lama. Dua tahun lalu, kemana saja kau?” Soojin masih sibuk dengan Fender Jazzmaster-nya.

“Tidak kusangka bakal semaniak ini. Sampai Kara’s Flower pun ada,” Minho mencomot sebuah CD, medley yang akan mengiringi mereka.

Minho seorang saxophonist kadang merangkap menjadi drummer juga. Soojin seorang guitarist dan sama seperti Minho,saxophonist. Dari Soojin Minho belajar saxophone, ternyata malah lebih mahir dari pada Soojin. Dari Soojin pula Minho akhirnya mendaftar di K.Arts.

In return you helped me, kajja, mokcha! Aku kelaparan, tidak sempat bikin sarapan. Mau brunch, kaunya sudah datang.”

“Kau mau mentraktirku lagi? Asik~”

—–

Mereka berdua ada di tempat makan jajangmyeon kecil di ujung jalan. Salah satu tempat jajangmyeon terbaik menurut Minho dan Soojin, mereka bisa ke tempat ini sampai dua kali seminggu. Apa lagi Soojin yang kemampuan masaknya sedikit di atas standar. Kalau sudah malas, tempat ini yang jadi sasaran. Sampai Oh ajusshi, hafal dengan apa yang akan dipesan dua orang ini.

Mereka sedang asyik makan jajangmyeon sampai Oh ahjusshi menyapa dua orang pelanggan. Bukan pelanggan biasa, Minho sampai tersedak saat melihat mereka berdua. Son Eunsoo, memesan jajangmyeon dengan seorang namja. Baru saja kemarin ia mendengar gadis itu putus dengan Lee Donghae sekarang ia jalan dengan… Lee Hyukjae. Playboy kelas hiu, seorang stage actor.

“Gwaenchanaseyo?” Soojin mendekatkan gelas berisi air putih untuk diteguk Minho. Minho meneguknya pelan, ujung matanya tetap mengawasi dua orang itu.

“Oh ajusshi,” Soojin mengalihkan perhatiannya pada Oh ajusshi yang baru selesai mengantarkan pesanan pelanggan. “Ne, Soojin agasshi.”

“Pelanggan yang di ujung itu, sering kemari?” Soojin menunjuk Lee Hyukjae dan Son Eunsoo yang sedang pegang-pegangan tangan sambil menunggu pesanan mereka.

“Ah, ne. Hyukjae sering kesini sampai hampir pingsan kebanyakan soju, sedang gadisnya itu, baru pertama kali lihat, agasshi,”

“Ah, jincca?” Soojin melirik Minho. Minho sama kagetnya, sedikit marah tersirat, tapi juga rasa iba pada diri Minho.

“Oh, juga agasshi, Hyukjae sering datang dengan temannya, Lee Donghae.”

“Temannya?” Minho bertanya.

“Mereka selalu datang berdua malah.”

Minho dan Soojin saling bertatapan sangsi, mereka lalu melihat Hyukjae dan Eunsoo yang sibuk mesra-mesraan.

Image Minho yang kalem pun pecah dalam sepuluh menit jalan kaki.

“Maldo andwae! Memang aku tidak bisa secara langsung bilang, ‘annyeong Eunsoo-ssi, naneun Choi Minho, nan jeongmal johayo,’ tapi bukan Lee Hyukjae juga kan? Kenapa di antara jutaan namja harus Lee Hyukjae? Bahkan teman Lee Donghae sendiri!”

Soojin menyelipkan headset Bluetooth pada telinganya dan mendengarkan musik lewat telinga kirinya sementara telinga kanannya sibuk menyimak rutukan Minho. Membuat musik yang ia dengarkan seperti background, seperti musikalisasi puisi.

Sepanjang kira-kira dua lagu Minho menyumpah, akhirnya Soojin angkat bicara. “Ya~ tidak ada yang salah. Mereka pacaran ya sudah biarkan. Kau saja yang bodoh tidak mau bilang pada Eunsoo dari awal.”

“Aku tidak bisa BAEK SOOJIN! Ratusan kali rasanya aku bilang padamu tentang itu. Nanti kau akan kembali dengan ceramah tentang bahagia itu, tapi aku tidak bisa,” suara Minho melemah, ia menghirup nafas dalam-dalam, “sungguh.”

“Mianhae,” Soojin merasa bersalah dan menatap nanar jalanan. Minho kembali sadar dari emosinya, “aku tidak bermaksud membentakmu, sungguh.”

“Gwaenchana, orang kalau terbawa emosi gampang seperti itu.”

—–

K.Arts seminggu kemudian.

Musim semi, bunga-bunga masih setia tersenyum, mengembang. Toh, mereka tidak banyak diperhatikan oleh anak-anak jurusan musik di K.Arts, sibuk menanti kuliah singkat musim panas yang melelahkan, juga ujian-ujian akhir musim semi yang membingungkan. Bunga-bunga itu kasihan, tidak ada yang memperhatikan. Sementara bunga-bunga itu sedang mekar, Choi Minho, namja tiang listrik itu sedang gloomy to the max.

Kenapa?

Karena dari sekian kelas yang berpapasan dengan kelas Son Eunsoo, selama seminggu ini, ia tidak melihat gadis itu sama sekali. Ia tidak memperhatikan dosen killer sekalipun bahkan, datang pada menit-menit terakhir kelasnya. Soojin sendiri entah mengapa menjadi jarang membangunkannya, bertemu gadis itu pun sekarang jarang, band garasinya juga terbengkalai tidak ada latihan atau “pelumasan” member-membernya yang juga mahasiswa K.Arts. Semua tidak berjalan lancar.

Minho hampir tertidur di sebuah bangku panjang di K.Arts, saat dua orang yeoja sibuk menggosip di belakangnya. Awalnya ia tidak peduli dan sudah memutar lagu Lionel Richie di telinganya sampai ia mendengar sebuah nama.

“Kau tahu Son Eunsoo? Major Jazz itu? Sudah seminggu dia tidak masuk, katanya dia depresi.”

Mata Minho membulat mendengar apa yang dikatakan gadis itu dengan gaya berlebihan. Ia mematikan musiknya dan memejamkan mata, pura-pura tertidur walau nyatanya mendengarkan dengan cekatan.

“Waeyo? Ia tampak seperti gadis ‘mulus’ biasanya.” Yang dimaksud gadis mulus adalah gadis yang mendekati sempurna dengan jalan hidup yang diaspal halus.

“Kau tidak tahu dia pacar Lee Hyukjae? Aigoo, si pervert itu pasti sudah macam-macam dengan Son Eunsoo.”

“Bukannya sebelumnya ia pacaran dengan Lee Donghae? Omona! Whore!” Minho menegakkan duduknya. Tidak menyangka akan mendengar berita semacam itu.

“Oh, ya. Ada satu orang lagi yang menghilang dari peradaban K.Arts beberapa hari ini,” gadis itu mendekatkan duduknya pada temannya, ia berbisik, “Baek Soojin.”

“Menghilang selama tiga atau empat hari ini. Pokoknya hilang. Klub Jazz hampir berantakan karena tidak ada dia.”

“Bagaimana dengan Choi Minho? Dua orang itu bukannya selalu lengket kemana-mana? Aku mulai curiga mereka pacaran, maksudku, kalau kau melihat Minho, tidak jauh pasti ada Soojin, kebalikannya juga begitu.” Minho tertegun, itukah yang dipikirkan orang-orang mengenainya dan Soojin? Apa mereka buta tidak bisa melihat ia dan Soojin sebatas sahabat? “Choi Minho, masih ada.”

—–

Berkat mendengar gosip dua orang yeoja itu, Minho melesat ke rumah Soojin. Ada apa dengan sahabatnya itu sampai dikatakan menghilang dari peradaban K.Arts? Tidak biasanya. Ditambah lagi, ponsel Soojin yang out of service range.

Ia melihat Baek ahjusshi sedang menyirami kembang di depan rumahnya. Minho sudah lama mengenal Tuan Baek, yang mengenalkan Minho dengan Soojin pun Tuan Baek.

“Annyeong haseyo, abeonim.” Minho menyapa Tuan Baek. Tuan Baek mematikan aliran air selang dan menyapa balik Minho. “Annyeong, Minho-goon. Lama tidak bertemu. Ada apa kemari, mencari Soojin kah?”

“Ne, Soojin ada abeonim?”

“Soojin bilang menginap di rumah teman untuk ujian musim semi. Aku juga tidak melihat anak itu tiga atau empat hari terakhir. Biasanya rajin ke rumah sakit, sekarang sedang sibuk. Biarlah, artinya dia serius dengan kuliahnya bukan?” Minho mengangguk samar. “Oh ya, Soojin menitipkan sesuatu padaku untuk diberikan padamu.”

Tuan Baek mempersilahkan Minho masuk dan duduk di ruang tamu. Minho berpikir sementara menunggu Tuan Baek. Tak lama, Tuan Baek keluar dengan kantong kertas kecil. “Soojin titip ini. Katanya gunakan dengan baik. Aku tidak tahu apa yang ada di dalamnya.”

“Oh, gamsahamnida Tuan Baek. Bisa aku minta tolong?”

“Dengan senang hati! Apa itu?”

“Kalau bertemu Soojin, tolong sampaikan aku mencarinya.”

“Itu gampang.”

—–

Soojin sendiri, sedang berada di area terpencil dari Korea Selatan. Entah mengapa ia bisa ada di sana. Ia sadar ia menuju ke tempat itu, tapi tidak sepenuhnya sadar apa alasan ia ke tempat itu, ia juga tidak sadar kenapa ia susah-susah mencari tahu tentang tempat ini. Sebuah tempat yang hampir di pucuk semenanjung Korea, Boseong.

Ia menemukan sebuah cottage kayu yang manis. Ia memarkin sedannya di tepi jalan dan memastikan terkunci dengan sempurna sebelum melangkah ke cottage itu. Ada sebuah bel, ia menekannya pelan. Tidak lama, seseorang ahjumma keluar.

“Annyeong haseyo, ahjummanim.” Soojin menyapa orang itu hangat. Dibalas sebuah senyuman yang tulus. “Ah, annyeong. Maaf, tapi ada perlu apa ke sini?”

Soojin mengetukkan buku-buku jarinya sebentar. “Ehm,” ia merasa berat untuk mengatakan hal ini, “saya mencari Son Eunsoo. Katanya ia sedang ada di sini.”

“Eunsoo agasshi?” Ahjumma itu memandang ke cottage, “ah, dia memang di sini tapi, sedang tidak mau diganggu. Kalau ada pesan bisa saya sampaikan.”

“Bisakah aku bertemu langsung dengannya, ahjumma nim? Ayahku datang jauh dari Seoul hanya untuk bertemu Nona Son.” Soojin memelas, ia memang datang jauh dari rumahnya mencari Son Eunsoo. Kalau orangnya tidak mau bertemu, percuma saja ia bohong pada appa-nya.

“Lim ahjumma,” sebuah suara lirih datang dari pintu cottage itu. Soojin melihatnya, Son Eunsoo, masih cantik, dan wajah yang jauh lebih pucat dan keadaan yang setengah mengenaskan. “Nugu?”

Soojin langsung mengambil alih, “Baek Soojin, semester lima Major Jazz, seangkatan denganmu di K.Arts, aku mau membicarakan sesuatu, kau punya waktu?” Lim ahjumma memandang Eunsoo, wajahnya harap-harap cemas. Tapi Eunsoo mengangguk, “buatkan teh yang enak untuk tamuku, Lim ahjumma nim. Kemarilah, di luar dingin.”

Lim ahjumma pamit, sementara Eunsoo diikuti Soojin berjalan masuk ke cottage itu. Ia sibuk celingukan. Sekarang Ia mulai mengerti mengapa Son Eunsoo mengasingkan diri di sini, karena tempat ini kelewat menyenangkan. Dengan pemandangan hijau-hijau perkebunan daun teh. Ruang tamu cottage itu merangkap ruang utama. Ada seperangkat sofa dan meja ngobrol yang menghadap perapian. Eunsoo mempersilakan Soojin duduk, Ia mengambil sofa di seberang Soojin.

“Jadi, apa yang membuat seorang ketua Klub Jazz K.Arts repot-repot mengunjungiku?” Eunsoo menatap kosong perapian yang membara. Soojin sibuk berpikir harus mulai dari mana.

“Kau, tidak masuk kuliah seminggu ini. Aku, hanya penasaran.” Soojin menjawab sekenanya, walaupun Ia tahu jawaban tadi mengenaskan.

“Benar bahwa penasaran membawa petaka. Kurasa kunjunganmu kalau hanya sekedar penasaran akan sia-sia.”

Tak lama Lim ahjumma datang dengan tea set lengkap. Eunsoo menyesap teh nya. “Bukan hanya penasaran. Aku datang sejauh ini punya alasan tertentu.”

“Choi Minho.”

“Tolong katakan padanya untuk tidak menyukaiku lagi, Soojin ssi.”

“Kau tahu, tentang Minho?” Soojin menaruh cangkirnya. Eunsoo menghirup dalam-dalam aroma teh khas Boseong itu. “Rumors, I’ve been thinking if only it’s true.

“Minho memang menyukaimu. Dan Ia sedang sakit. Aku tidak mau penyakitnya bertambah parah, karena kekhawatirannya.”

“Ia tidak perlu khawatir kerenaku, Soojin ssi.” Soojin bisa melihat air mata merebak dari mata indah yeoja itu. “Naega, naega…”

Dalam sepersekian detik, Eunsoo menutup wajahnya. Ia tenggelam dalam tangisan. Soojin terkejut, tapi langsung bisa menarik sebuah kesimpulan. Rumor yang beredar dua hari lalu benar adanya.

#flashback

Soojin baru selesai mengurusi klub jazz untuk festival dua bulan lagi ketika dua sahabatnya, Kang Hyun dan Goo Hyusun, si duo informan itu menghampirinya. Sebenarnya ia sudah kelewat lelah untuk mendengarkan dua orang itu mengoceh. Tapi, dari wajah dua orang itu, Soojin merasa tidak perlu mengelak.

“Soojin ah,” Hyusun memulai, “ini benar-benar penting.” Soojin mengangkat bahunya, mengingat kalau mereka berdua mengatakan penting benar kejadian.

“Son Eunsoo, Ia hamil.” Hyun langsung ke poinnya. “Aku melihat Ia datang menemui seorang dokter kandungan, dan sepupuku yang asisten dokter itu mengatakan bahwa catatannya positif. Kurasa itu anak Eunhyuk.”

“April Mop sudah lewat, Goo Hyusun, Kang Hyun.” Walapun terkejut dengan berita ini, Ia masih tidak bisa percaya sepenuhnya.

“Kau tidak percaya, eoh? Ini benar, Baek Soojin, sungguh!” Hyusun menggoyang bahu Soojin yang digandoli tas gitar.

End of Flashback

Soojin segera menghampiri Eunsoo dan mengelus punggung wanita ayu itu. “Uljimarayo.”

“Aniya, aku sudah tidak suci lagi, Baek Soojin. Aku, aku, aku mengandung buah nafsu iblis itu!”

Holaaaa!!! Ini adalah duo project pertama @fafaaaw sama imsookbin! bagus gak? nulis ini perjuangan karena Sookbin eonnie lagi ada di Kent sementara aku di Indonesia, jelas ini adalah, sesuatu. Nulis pake skype! stylenya gak ke aku dan gak ke sookbin eonnie, ini beneran mix. Plus, nulis di tengah ujian mid-semDapet ide waktu sama-sama streaming nonton Dream High 2 di KBSWorld, *apa hubungannya? , ya gitu, titik. Buat the AwAws, yang udah ngasih saran walau pake samaran Anjing, Babi dan Cacing, makasih loh, your hardwork bakal kleatan di part 2 and final karena ini cuma two-shoots.

Advertisements

5 comments on “I Know – Entwined [1.2]

  1. alyaamir
    April 17, 2012

    hei, ini bakal sad ending ya?-_- kok ada cerita anjing babi cacing domba itu -,-

    • fafacintamakan
      April 18, 2012

      lha emang ini anjing babi cacing domba itu, cuma ini versi seriusnyaa…

      • alyaamir
        April 22, 2012

        wenaaakk~~ kalo udah bikin ini, jgn lupa selesain fianced sama camera girl yaaa 😀

      • fafacintamakan
        April 27, 2012

        hem-___- siip… lain kali kalok tanya soal ff, di komen, jangan sms…

      • alyaamir
        May 2, 2012

        wkwkwkwkwk aku stres smpe bingung mau dimana :p

what's with it?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 16, 2012 by in ff-sequel, therandomgirl and tagged , , , .

it’s all under copyright dude~

Protected by Copyscape Unique Content Check

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: