kurofluid

welcome to the wonderland, be nice and kind, and I won't bite

Rule Dreams

Title    : Rule Dreams

Casts    : Choi Minho and Soun

Genre   : Fantasy

Rating  : General

Author : @fafacintamakaan

Aku sudah sampai di tempat yang lain. Ia hanya berlari di tempat ini. Senyumnya, larinya tidak mengejar apapun. Matanya sempurna indah. Lalu ia terduduk, menghadapku. Matanya itu melihat ke arahku, dengan air muka yang sama sekali berbeda. Ia memalingkan wajahnya. Seketika semua gelap.

Nafasku memburu, lagi-lagi terbangun dari mimpi yang sama. Kutatap lamat-lamat ruangan ini. Benar, kamarku. Aku menyibakkan selimut dan hanya terduduk di pinggiran kasur. Efek mimpi ini masih sama; pening berkelanjutan dan rasa penasaran yang tak ada habisnya. Aku mengambil pereda nyeri dan air putih di lamp table dan menenggaknya. Setidaknya sekarang, aku bisa berdiri.

Mimpi-mimpiku semalam masih berkelebat seperti hujan di kepalaku. Tentang gadis yang berjalan di jalanan New York lalu mati karena ulahku, tentang seorang kakek yang mati sambil tersenyum, terakhir mimpi yang selalu datang tiap kali aku tidur. Datangnya paling terakhir, plotnya tidak berubah sekalipun aku mencoba mengendalikan mimpi itu. Efek ke dunia nyatanya adalah: aku yang ketergantungan obat pereda nyeri.

Dua tahun yang lalu mimpi itu mampir ke kehidupan mimpiku. Hanya begitu saja, seorang balita yang mengenakan gaun putih berlari di sebuah padang rumput. Lalu ia akan terduduk, menatap nanar pada wajahku. Sirat kebencian pada air mukanya ketika menatapku. Mimpi itu selalu datang, walau aku tak mengharapkannya.

Aku bisa mengharapkan mimpi macam apapun kecuali membuat diriku sendiri mati. Aku bisa menyelinap masuk ke dalam mimpi orang di luar sana dan membuat akhirnya bahagia atau tragis sekalian berlumuran darah. Ulahku pada mimpi juga menimbulkan efek nyata. Orang-orang yang kukunjungi mimpinya akan berakhir meringkuk di pojok ruang rawat RSJ atau yang paling parah–mati.

Ya, aku Penguasa Mimpi.

—–

Kepalaku berdenyut hebat lagi pagi ini. Mimpi yang sama. Di luar hujan, deras sekali. Benar-benar latar yang tepat. Denyutan pada temporal-ku semakin menjadi-jadi. Rasanya seluruh darahku menggumpal di occipital dan temporalku, 500 mg asam mefenamik tidak akan menenangkan sakit kepala ini. Mimpi itu tidak berkelebat lagi dalam benakku. Ada apa ini? Kenapa tidak terjadi lagi?

Aku membiarkan kepalaku tenggelam dalam tumpukan bantal. Berbaring, tapi tidak ingin tidur lagi. Aku berusaha mengosongkan pikiranku. Tidak ingin teringat apapun, membayangkan apapun. Tapi akhirnya aku jatuh kembali–bermimpi.

Tidak ada mimpi lain yang kulihat. Langsung ke latar padang rumput luas. Tapi di sini berhujan, mimpiku, berbeda ‘kah? Tapi aku melihat anak itu lagi. Gaun yang sama, senyum yang sama, cara berlari yang sama. Tak ada yang dikejar, hanya berlari sambil tersenyum. Tubuhnya jelas basah kuyup, tidak menyurutkan niatnya berlari.

Sekarang ia jelas berlari ke arahku. Lalu seperti biasa, terduduk dengan tatapan nanar.

“Kau selalu melihatku seperti itu, tidak bosan?”

“Tidak akan sebelum kau menghentikannya.”

“Menghentikan apa?”

“Ulahmu,” ia memicingkan matanya.

Selama ini, aku tidak pernah berbicara dengan anak ini. Sekarang ia benar-benar bicara. Nadanya dingin dan bicaranya lugas. Tidak tampak seperti anak kecil.

“Maksudmu? Memang apa yang aku lakukan?”

“Mengubah jalan ceritanya.”

“Mimpi-mimpi itu?”

“Ya, mimpi-mimpi yang sudah kuatur sedemikian rupa agar tidak mengubah kenyataan.”

Apa? Yang dia atur? Siapa dia? Apa penguasa mimpi di dunia ini ada dua? Atau lebih?

“Siapa kau?”

“Soun, Penguasa Mimpi, yang sesungguhnya. Penguasa Buku Mimpi.”

Penguasa Buku Mimpi. Apa itu? Dia juga Penguasa Mimpi? Dia hanya anak kecil, tidak mungkin dia seorang Penguasa Mimpi.

“Tunjukkan!”

Seketika hujan mereda. Semua air yang ada di tempat ini terhisap ke langit. Rerumputan di bawah kakiku melayu, mengerut. Tanah menjadi retak, seketika berpasir. Mataku tidak mampu memandang langit, terik menyilaukan. Lalu angin kering berhembus dengan kencang. Pertahanan kakiku oleng, aku jatuh terduduk, menatap mata gadis ini. Lalu semua berubah lagi, awan bergemuruh dan turun salju tanpa ampun. Hanya salju, semua menjadi putih. Dingin menusuk menjadi-jadi.

“Bagaimana?”

“Tidak aku tidak percaya!”

—–

Aku tidak percaya akan pemandangan pada refleksi cermin itu. Aku meringkuk dalam balutan piama rumah sakit. Tunggu, piama rumah sakit? Aku memutar pandanganku. Janggal. Ini bukan kamar rumah sakit normal, ini, kamar RSJ. Keadaanku, meringkuk? Memeluk kakiku dan wajahku pucat sekali. Tapi tidak ada rasa sakit pada kepalaku.

Aku mendengar ketukan pintu. Lalu seorang dengan seragam putih memasuki ruanganku. “Minho-ssi? Kau kedatangan tamu hari ini,” wanita berseragam putih itu bergeser dan seorang anak kecil masuk ke dalam ruanganku.

Nafasku tercekat. Kausnya putih dan celananya putih. Matanya sempurna indah berwarna kelabu dan rambutnya putih. Dia, gadis kecil dalam mimpiku. Jantungku berdegup hebat seakan ditarik dari tempatnya.

“Kau ingin berbicara dengannya berdua, Soun?” Soun, sama.

Ia mengangguk ceria, rambut putihnya bergoyang.

Ia berjongkok di depanku. Matanya masuk ke dalam mataku, seperti membaca pikiranku. Menyapu setiap sel otakku.

“Soun,” aku bergumam.

“Kau masih meragukanku?”

Nada suaranya lugas. Ia bukan anak kecil, sama sekali. Walaupun tubuhnya itu, wajahnya itu, semua menggambarkan anak kecil yang sangat imut, tapi kenyataannya berbeda. Sekarang aku setengah percaya padanya, percaya ia adalah Penguasa Mimpi.

“Belum, belum semuanya.”

“Kau tahu apa yang terjadi padamu dua bulan terakhir di Bumi?”

“Dua bulan terakhir?”

“Meringkuk, menangis di pojokan itu sendirian. Terlihat seperti idiot. Aku sudah mengacaukan mimpimu yang berefek pada dunia nyatamu.”

Seluruh otakku berdenyut hebat. Apa yang terjadi padaku dua bluan terakhir? Meringkuk sendirian di tempat ini, menangis seperti idiot? Apa gadis kecil di depanku ini sedang meracau? Tidak, tidak ada keraguan dalam kata-katanya. Semuanya adalah pernyataan sempurna.

“Aku Penguasa Mimpi. Aku menguasai Buku Mimpi.”

“Ya, aku percaya.”

“Kau mau melepaskan kontrolmu?”

“Atas apa?”

“Semua mimpi itu. Berbalik ke lima tahun lalu di mana kau hanya–manusia.”

Lima tahun lalu? Saat pertama aku mendapat kontrol atas mimpi-mimpi orang lain. Menyenangkan memang, aku pecinta sadisme.

“Ya,” aku tanpa pikir panjang mengiyakan tawaran itu.

Ia mendekat. Wajahnya hanya sepuluh senti dari wajahku. Tangan mungilnya merangsek ke depan wajahku. Ia menyentil bagian frontal wajahku.

—–

Cahaya matahari merangsek masuk lewat sela-sela tirai yang tidak tertutup rapat. Aku mengerjapkan mataku. Mataku menjelajahi tiap senti ruangan ini. Benar, kamarku. Kepalaku tidak berdenyut hebat, tidak ada tablet asam mefenamik dan air putih di lamp table-ku. Tidak ada mimpi yang berkelebat dalam pikiranku. Ini pagi yang cerah.

Pintu di ujung ruangan itu terbuka. Seorang wanita berjalan masuk. “Kau sudah bangun? Hari ini aku dan bibimu akan pergi. Kau jaga sepupumu ya?”

Seorang anak kecil dengan rambut putih, bibir merah muda, dan gaun putih, juga matanya yang sempurna indah melangkah masuk ke kamarku. Eomma berlutut dan membelai rambut anak itu sayang.

“Panggil dia Minho-oppa. Minho, ini Soun, sepupumu.”

-fin-

Advertisements

About faciikan

five feet two inches girl who longs a universe semarang-tanjung puting-svalbard

what's with it?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 18, 2011 by in ff-oneshot, therandomgirl and tagged , , , .

it’s all under copyright dude~

Protected by Copyscape Unique Content Check

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: